Home > Politik

Keadilan Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi

Menerima keputusan MK sebagai realitas politik sambil terus bersikap kritis terhada pemerintahan mendatang.

Oleh: Elza Peldi Taher, Penulis dan Pengamat Sosial

Membaca Keputusan MK dan aneka ragam sikap terhadap Keputusan MK , kitapun sadar betapa nilai agung seperti konsep keadilan itu relative. Tiap orang memberi makna terhadap keadilan sesuai dengan pemahaman, ideologi dan kepentingan masing masing. Adil menurut seseorang, belum tentu adil menurut yang lain. Adil menurut yang satu, boleh jadi zalim bagi yang lain.

Begitulah, setelah MK mengeluarkan keputusannya, jutaan orang memuja sikap lima hakim yang menolak gugatan dan jutaan orang lain memuji tiga hakim yang memberikan dissenting opinion terhadap Keputusan. Tiap orang memuji Keputusan yang sesuai aspirasinya dan mengritik Keputusan yang tak sesuai aspirasi.

Hakim MK Saldi Isra di sidang Mahkamah Konstitusi.
Hakim MK Saldi Isra di sidang Mahkamah Konstitusi.

Hal ini membuktikan konsep keadilan itu relative. Karena itu mau tak mau kita memang harus move on dari realitas politik pasca Keputusan MK, menerima keputusan MK sebagai realitas politik sambil terus bersikap kritis terhada pemerintahan mendatang.

Setelah Keputusan MK yang disusul sikap resmi KPU yang menyatakan Prabowo syah jadi pemenang pilpres, maka Prabowo akan jadi presiden Oktober mendatang. Keduanya memenuhi syarat memenuhi konsep keadilan prosedural menurut Plato, karena telah memenuhi proses menjadi pemimpin seperti yang ditetapkan KPU hari ini.

Jadi tak ada pilihan lain kita harus move on dari Pilpres, menerima ini sebagai realitas politik sambil tetap bersikap kritis pada pemerintahan mendatang.

× Image